KIAT UNTUK SALING MEMAHAMI

Salah satu kunci keberhasilan sebuah hubungan, yaitu kemampuan untuk saling memahami satu sama lain.

Namun kenyataannya, sulit untuk bisa memahami pemikiran pasangan yang memiliki pendapat dan selera yang berbeda.

Jangan patah semangat dulu…! Klo kamu penasaran dan pengen tau gimana caranya menyelami hati pasangan dan tertarik untuk memiliki hubungan yang langgeng, coba intip beberapa tips berikut ini :

Cobalah untuk mengalah

“Dia bukanlah masalahnya, sayalah masalahnya”. Semakin cepat kamu mengucapkan kalimat ini, semakin cepat pula miskomunikasi terselesaikan. Karena sikap egois dan mau menang sendiri cenderung memicu pertengkaran yang lebih hebat.

Jadilah pendengar yang baik

Pasangan pasti akan lebih mudah diajak kompromi karena merasa telah diperhatikan. Mendengarkan bukan cuma menguntungkan dalam berhubungan asmara, tapi juga dalam setiap aspek kehidupan.

Perhatikan ekspresi wajahnya

Dengan begitu, kamu bisa tahu bagaimana perasaannya saat itu. Terutama bagi wanita, perasaan biasanya lebih penting ketimbang isi pembicaraan–meski mereka sering tak mau mengakuinya.

Hindari memberikan kritik tajam

Lakukan dengan cara yang lebih diplomatis. Ada banyak cara menyampaikan kritik membangun dan positif. Jangan sampai melukai hatinya, dan membuat jalan semakin buntu.

Diam itu emas

Pada suatu hubungan, kita tidak harus selalu menjawab setiap pertanyaan. Dengan hanya menyediakan ‘telinga’ untuk mendengar mampu melunakkan hati pasangan. Atau cobalah untuk menanggapi semua ocehannya dengan senyum simpatik dan pelukan hangat.

SeLaMaT MeNcObA…..!!!

Tetapkan Tujuan Hidup Anda

“Without goals, and plans to reach them, you are
like a ship that sail with no destination” –
(Fritzhugh Dodson)

Itulah perumpamaan bagi orang yang tidak punya
tujuan dalam hidupnya.

Banyak orang melakoni perannya, tapi tidak tahu
arah hidup yang ingin ditujunya. Mereka-reka hidup
adalah apa yang kemudian dilakukannya.

Bila sesuatu hal buruk terjadi, mereka akan berdalih
nasib tak berpihak padanya.

Tidak jarang seseorang baru menyadari tujuan
hidupnya pada usia tua. Sangat disayangkan memang.

Seringkali orang tidak berani melakukan perubahan
dalam hidupnya. Dia hanya menunggu, dan menunggu
adanya perubahan tersebut… hingga akhirnya tujuan
hidupnya tidak tercapai!

Sebenarnya, tidak masalah jika kita harus mengubah
tujuan hidup beberapa kali. Hal yg terpenting adalah
setiap saat kita mempunyai tujuan hidup yang ingin
dicapai.

Setidaknya kita tahu ke mana kita akan berjalan dan
strategi apa yang harus diambil.

4 Cara Yang Bisa kita Pakai Untuk Menetapkan
Tujuan Hidup:

1. Apa sebenarnya keinginan Anda?

Tanyakan pada hati nurani, apa sebenarnya
keinginan Anda untuk beberapa tahun ke depan?

Tidak ada salahnya Anda bermimpi. Anda
tidak perlu malu mengakuinya, lagipula, tokh tidak
ada biaya yang harus Anda keluarkan untuk
sekedar bermimpi. ;-)

2. Kumpulkan informasi.

Dengan mengumpulkan informasi, Anda
bisa lebih mudah mencapai tujuan yang diinginkan.

Jika ada orang lain yang sudah berhasil melakukan
yang Anda inginkan, belajarlah dari mereka.
Lakukan apa yang mereka kerjakan!

3. Jangan diam.

Lakukan sesuatu dan secara terus menerus yang akan
membawa Anda pada impian hidup yang diinginkan!

4. Tingkatkan kemampuan

Jika ada cara yang Anda lakukan terbukti efektif
dan mendekatkan pada tujuan yang ingin dicapai,
maka alangkah baiknya jika Anda berusaha untuk
meningkatkan kemampuan dan menambah kecepatan
kinerja agar tujuan hidup Anda lebih cepat tercapai.

Jika keempat hal di atas Anda lakukan secara terus
menerus tanpa lelah dan bosan, Yakinlah Anda
akan mendapatkan tujuan hidup yang diinginkan.

Anda ibaratnya adalah seorang ‘pemahat’ atas
gambaran kehidupan Anda sendiri. Dan seorang
pemahat yang baik akan selalu memiliki ‘planning’
terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang
terbaik.

Dalam hal ini, Anda pun hanya bisa sebesar dan
sebahagia sebagaimana tujuan yang telah Anda
tentukan. Oleh sebab itu, pahatlah diri Anda
dengan sebaik-baiknya! :-)

Ditulis oleh: Anne Ahira

Meiman

Meiman

Kuasai Kecerdasan Emosi Anda

“Siapapun bisa marah. Marah itu mudah.
Tetapi, marah pada orang yang tepat,
dengan kadar yang sesuai, pada waktu
yang tepat, demi tujuan yang benar, dan
dengan cara yg baik, bukanlah hal mudah.”
– Aristoteles, The Nicomachean Ethics.

Mampu menguasai emosi, seringkali orang
menganggap remeh pada masalah ini.
Padahal, kecerdasan otak saja tidak
cukup menghantarkan seseorang mencapai
kesuksesan.

Justru, pengendalian emosi yang baik
menjadi faktor penting penentu
kesuksesan hidup seseorang.

Kecerdasan emosi adalah sebuah gambaran
mental dari seseorang yang cerdas dalam
menganalisa, merencanakan dan
menyelesaikan masalah, mulai dari yang
ringan hingga kompleks.

Dengan kecerdasan ini, seseorang bisa
memahami, mengenal, dan memilih
kualitas mereka sebagai insan manusia.
Orang yang memiliki kecerdasan emosi
bisa memahami orang lain dengan baik
dan membuat keputusan dengan bijak.

Lebih dari itu, kecerdasan ini terkait
erat dengan bagaimana seseorang dapat
mengaplikasikan apa yang ia pelajari
tentang kebahagiaan, mencintai dan
berinteraksi dengan sesamanya.

Ia pun tahu tujuan hidupnya, dan akan
bertanggung jawab dalam segala hal yang
terjadi dalam hidupnya sebagai bukti
tingginya kecerdasan emosi yang
dimilikinya.

Kecerdasan emosi lebih terfokus pada
pencapaian kesuksesan hidup yang
*tidak tampak*.

Kesuksesan bisa tercapai ketika
seseorang bisa membuat kesepakatan
dengan melibatkan emosi, perasaan dan
interaksi dengan sesamanya.

Terbukti, pencapaian kesuksesan secara
materi tidak menjamin kepuasan hati
seseorang.

Di tahun 1990, Kecerdasan Emosi (yang
juga dikenal dengan sebutan “EQ”),
dikenalkan melalui pasar dunia.

Dinyatakan bahwa kemampuan seseorang
untuk mengatasi dan menggunakan emosi
secara tepat dalam setiap bentuk
interaksi lebih dibutuhkan daripada
kecerdasan otak (IQ) seseorang.

Sekarang, mari kita lihat, bagaimana
emosi bisa mengubah segala keterbatasan
menjadi hal yang luar biasa….

Seorang miliuner kaya di Amerika
Serikat, Donald Trump, adalah contoh
apik dalam hal ini. Di tahun 1980
hingga 1990, Trump dikenal sebagai
pengusaha real estate yang cukup
sukses, dengan kekayaan pribadi yang
diperkirakan sebesar satu miliar US
dollar.

Dua buku berhasil ditulis pada puncak
karirnya, yaitu “The Art of The Deal
dan Surviving at the Top”. Namun jalan
yang dilalui Trump tidak selalu
mulus.

Anda ingat depresi yang melanda dunia
di akhir tahun 1990? Pada saat itu
harga saham properti pun ikut anjlok
dengan drastis. Hingga dalam waktu
semalam, kehidupan Trump menjadi sangat
berkebalikan.

Trump yang sangat tergantung pada
bisnis propertinya ini harus menanggung
hutang sebesar 900 juta US Dollar!
Bahkan Bank Dunia sudah memprediksi
kebangkrutannya.

Beberapa temannya yang mengalami nasib
serupa berpikir bahwa inilah akhir
kehidupan mereka, hingga benar-benar
mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh
diri.

Di sini kecerdasan emosi Trump
benar-benar diuji. Bagaimana tidak,
ketika ia mengharap simpati dari mantan
istrinya, ia justru diminta memberikan
semua harta yang tersisa sebagai ganti
rugi perceraian mereka.

Orang-orang yang dianggap sebagai teman
dekatnya pun pergi meninggalkannya
begitu saja. Alasan yang sangat
mendukung bagi Trump untuk putus asa
dan menyerah pada hidup. Namun itu
tidak dilakukannya.

Trump justru memandang bahwa ini
kesempatan untuk bekerja dan mengubah
keadaan. Meski secara finansial ia
telah kehilangan segalanya, namun ada
“intangible asset” yang tetap
dimilikinya.

Ya, Trump memiliki pengalaman dan
pemahaman bisnis yang kuat, yang jauh
lebih berharga dari semua hartanya yang
pernah ada!

Apa yang terjadi selanjutnya?

Fantastis, enam bulan kemudian Trump
sudah berhasil membuat kesepakatan
terbesar dalam sejarah bisnisnya.

Tiga tahun berikutnya, Trump mampu
mendapat keuntungan sebesar US$3
Milliar. Ia pun berhasil menulis
kembali buku terbarunya yang diberi
judul “The Art of The Comeback”.

Dalam bukunya ini Trump bercerita
bagaimana kebangkrutan yang menimpanya
justru menjadikannya lebih bijaksana,
kuat dan fokus daripada sebelumnya.

Bahkan ia berpikir, jika saja musibah
itu tidak terjadi, maka ia tidak akan
pernah tahu teman sejatinya dan tidak
akan menjadikannya lebih kaya dari yang
sebelumnya. Luar biasa bukan? :-)

Kecerdasan Emosi memberikan seseorang
keteguhan untuk bangkit dari kegagalan,
juga mendatangkan kekuatan pada
seseorang untuk berani menghadapi
ketakutan.

Tidak sama halnya seperti kecerdasan
otak atau IQ, kecerdasan emosi hadir
pada setiap org & bisa dikembangkan.

Berikut beberapa tips bagaimana cara
mengasah kecerdasan emosi:

1. Selalu hidup dengan keberanian.

Latihan dan berani mencoba hal-hal baru
akan memberikan beragam pengalaman dan
membuka pikiran dengan berbagai
kemungkinan lain dalam hidup.

2. Selalu bertanggung jawab dalam
segala hal.

Ini akan menjadi jalan untuk bisa
mendapatkan kepercayaan orang lain dan
mengendalikan kita untuk tidak mudah
menyerah. “being accountable is being
dependable”

3. Berani keluar dari zona nyaman.

Mencoba keluar dari zona nyaman akan
membuat kita bisa mengeksplorasi banyak
hal.

4. Mengenali rasa takut dan mencoba
untuk menghadapinya.

Melakukan hal ini akan membangun rasa
percaya diri dan dapat menjadi jaminan
bahwa segala sesuatu pasti ada
solusinya.

5. Bersikap rendah hati.

Mau mengakui kesalahan dalam hidup
justru dapat meningkatkan harga diri
kita.

So, kuasailah kecerdasan emsi Anda!

Karena mengendalikan emosi merupakan
salah satu faktor penting yang bisa
mengendalikan Anda menuju sukses dan
juga menikmati warna-warni kehidupan. :-)

Ditulis: Anne Ahira

Memaknai Teologi Pembebasan Dalam Pekerjaan Sosial

Kesibukan sebagai seorang pekerja sosial dalam menghasilkan karya-karya sosial yang nyata di tengah masyarakat pasti menguras banyak tenaga dan pikiran. Namun demikian, semangat kita untuk terus terlibat dalam pekerjaan itu tidak pernah surut atau padam. Kita terus berjuang untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. Untuk memacu semangat dan keyakinan dalam pekerjaan sosial tersebut kita membutuhkan sumber-sumber inspirasi yang menolong kita untuk berefleksi dan memberikan perspektif yang relevan bagi pekerjaan sosial yang kita geluti.

Dalam kaitan itulah, teologi pembebasan sangat relevan untuk dijadikan salah satu referensi. Teologi pembebasan memiliki kaitan yang sangat erat dengan upaya-upaya transformasi sosial yang digeluti dalam pekerjaan sosial. Penulis melihat bahwa perspektif teologi pembebasan mampu menginspirasi perjuangan bersama dalam melakukan perubahan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Teologi pembebasan mampu memberikan keyakinan yang kokoh atau memperkuat optimisme untuk melakukan perubahan masyarakat karena teologi pembebasan merupakan sebuah teologi yang lahir dari pergulatan sosial dan teologis. Teologi pembebasan muncul dari kesadaran bahwa pergulatan-pergulatan sosial tidak dapat dipisahkan dari pergulatan teologis, dan begitu pun sebaliknya pergulatan teologis berkaitan erat dengan pergulatan sosial. Dengan demikian, teologi pembebasan mencoba menghubungkan antara realitas iman dan realitas sosial.
Teologi pembebasan berkembang di pertengahan abad ke-20 terutama di negara-negara dunia ketiga. Pada tahun 1950-an dan 1960-an negara-negara yang berada di dunia ketiga sebagian besar masih baru merdeka dari kolonialisme sehingga semangat nasionalisme sangat kuat. Akan tetapi pengaruh kekuatan luar selalu mendominasi kehidupan sosial, politik, dan ekonomi yang menimbulkan ketertindasan dan kemiskinan terutama di masyarakat Amerika Latin. Kemiskinan di Amerika Latin disebabkan ketergantungan pada negara luar atau negara-negara kaya yang menerapan sistem kapitalis. Perkembangan perdagangan dunia menciptakan hubungan ketergantungan dan dominasi antarbangsa. Kaum kapitalis menguasai ekonomi Amerika Latin, modal-modal asing ditanam di Amerika Latin untuk mendirikan berbagai macam industri, yang menguntungkan kaum kapitalis, sehingga negara-negara Amerika Latin semakin terikat pada kapitalisme internasional. Kaum kapitalis luar negeri menjalin hubungan yang erat dengan kaum kapitalis dalam negeri yang menguasai dunia ekonomi Amerika Latin. Kenyataan tersebut menyebabkan munculnya pertentangan kelas dan pertentangan kepentingan antar kelompok di Amerika Latin. Secara politik, hal ini diperparah dengan berkuasanya pemerintahan dikatator di negara-negara Amerika Latin yang sering menggunakan kekuatan militer. Pemerintahan yang dikatator tersebut lebih berpihak dan mendukung kepentingan kaum kapitalis sehingga rakyat semakin menderita, miskin dan tertindas.

Untuk mengatasi situasi tersebut gereja di Amerika Latin mengembangkan teologi pembebasan sebagai sebuah jawaban terhadap realitas sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang tidak adil. Gustavo Guttierez adalah seorang teolog yang terkenal dalam memberikan perspektif baru dalam hal gereja menghadapi persoalan-persoalan sosial. Pembebasan menjadi kata kunci yang mendorong semangat sekaligus aksi menghadapi situasi penindasan. Guttierez mengkritik tindakan gereja di Amerika Latin yang berhubungan dan bersahabat dengan mereka yang mengendalikan ekonomi dan politik. Persahabatan gereja dengan kaum penguasa dan pengendali politik diberi dalih sebagai pewartaan Injil, namun melegitimasi pemerintah yang korup dan menindas. Guttierez menyerukan perubahan agar gereja sungguh-sungguh terlibat dalam pergulatan-pergulatan sosial dan politik dengan keberpihakan kepada yang miskin dan tertindas. Dalam hal inilah, gereja menunjukkan solidaritasnya kepada penderitaan manusia.

Dari sinilah titik temu antara persoalan sosial dan persoalan teologis. Guttierez melihat bawah orang kristen yang melibatkan diri dalam usaha pembebasan telah yaitu bahwa keterlibatannya merupakan tuntutan iman. Menurut Guttierrez teologi pembebasan adalah refleksi kritis dalam terang sabda Allah atas praksis hidup orang kristen, yang melibatkan diri dalam usaha pembebasan. Guttierrez mengembangkan teologi menawarkan paradigma dan cara bertindak yang membebaskan manusia, atau disebut praksis, dari segala macam kedosaan dengan segala akibatnya yang merambah sistem dan relung-relung kehidupan dengan segala dimensinya.

Menurut teologi pembebasan, selain dosa pribadi terdapat dosa sosial yang sudah membentuk struktur sehigga pribadi-pribadi di dalamnya sulit untuk terbebas darinya. Dosa-dosa berlembaga dan berbentuk sistem inilah yang dipahami oleh masyarakat Amerika Latin dan juga belahan dunia ketiga lainnya, yang menindas, mempermiskin, memperbodoh, dan mengintimidasi, serta membunuh dengan kekerasan yang spiral semakin meningkat jelajah dan intensitasnya. Pada zaman ini, kedosaan struktural itu mengambil bentuk globalisasi ekonomi dan politik-ideologi yang tidak terkendali oleh segi-segi manusiawi yang ada pada globalisasi ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.

Dari sinilah titik temu antara persoalan sosial dan persoalan teologis. Guttierez melihat bawah orang kristen yang melibatkan diri dalam usaha pembebasan telah yaitu bahwa keterlibatannya merupakan tuntutan iman. Menurut Guttierrez teologi pembebasan adalah refleksi kritis dalam terang sabda Allah atas praksis hidup orang kristen, yang melibatkan diri dalam usaha pembebasan. Guttierrez mengembangkan teologi menawarkan paradigma dan cara bertindak yang membebaskan manusia, atau disebut praksis, dari segala macam kedosaan dengan segala akibatnya yang merambah sistem dan relung-relung kehidupan dengan segala dimensinya.

Menurut teologi pembebasan, selain dosa pribadi terdapat dosa sosial yang sudah membentuk struktur sehigga pribadi-pribadi di dalamnya sulit untuk terbebas darinya. Dosa-dosa berlembaga dan berbentuk sistem inilah yang dipahami oleh masyarakat Amerika Latin dan juga belahan situasi penindasan. dunia ketiga lainnya, yang menindas, mempermiskin, memperbodoh,dan mengintimidasi, serta membunuh dengan kekerasan yang spiral semakin meningkat jelajah dan intensitasnya. Pada zaman ini, kedosaan struktural itu mengambil bentuk globalisasi ekonomi dan politik-ideologi yang tidak terkendali oleh segi-segi manusiawi yang ada pada globalisasi ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.

Teologi pembebasan dikembangkan dalam merespons realitas ketidakadilan (injustice) terhadap orang miskin. Teologi pembebasan mampu melihat dimensi-dimensi sosial politik yang menimbulkan ketidakadilan dan mempersiapkan strategi untuk menghadapinya. Teologi pembebasan menekankan “praksis kepada yang miskin”. Praksis adalah komitmen terhadap perubahan yang didasarkan pada refleksi dan penekanan pada peran orang miskin dan tertindas dalam proses. Dengan demikian pemberdayaan adalah tema pokok dalam praksis.

Pengakuan terhadap kapasitas orang miskin untuk terlibat dalam proses perubahan menjadi inti teologi pembebasan. Strategi teologi pembebasan dilakukan dengan melibatkan orang-orang tertindas untuk ikut serta dan memahami secara bersama-sama situasi yang sedang mereka hadapi melalui proses penyadaran, menemukan sebab penindasan, mengorganisasikan mereka dalam gerakan, melakukan tindakan perubahan. Dengan demikian teologi pembebasan menggunakan refleksi dan aksi. Refleksi terhadap situasi yang sedang dihadapi memberikan peluang mempertimbangkan berbagai situasi dalam cara yang berbeda. Refleksi juga mendorong mereka untuk melihat faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi situasi mereka. Tujuan proses refleksi bukan hanya untuk meningkatkan kesadaran terhadap situasi, tetapi juga memberikan pilihan-pilihan untuk mengubahnya. Proses penyadaran secara luas berlangsung dalam komunitas-komunitas basis. Komunitas basis memberi lingkungan yang aman kepada mereka untuk membagikan pengalaman dan perjuangan mereka. Dengan bekerjasama, anggota-anggota komunitas basis menemukan faktor-faktor sosial politik yang mempengaruhi perjuangan mereka. Dari sini kita melihat bahwa tujuan permberdayaan adalah menolong orang untuk mengambil tindakan konkret untuk mengubah situasi mereka.

Teologi pembebasan adalah penegasan paradigma penyelamatan Allah. Teologi pembebasan adalah bagian dari seruan agama untuk membela keadilan dan kesejahteraan manusia. Teologi pembebasan muncul sebagai counter balik terhadap ideologi yang merusak tatanan kehidupan masyarakat. Teologi pembebasan di Amerika Latin merupakan bagian dari gerakan para agamawan melawan hegemoni kekuasaan negara. Dengan demikian, mengembangkan teologi pembebasan berarti mendorong perjuangan rakyat demi kemanusiaan, melakukan perubahan ke arah keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Teologi pembebasan memperjuangkan hak keadilan bagi masyarakat miskin, tertindas, tersisih, dan terpinggirkan. Teologi pembebasan sangat relevan di negara-negara dunia ketiga dalam melawan negara yang kuat dan hegemoni kapitalis.

Teologi pembebasan berusaha memantulkan kemuliaan Allah dalam kemanusiaan yang dipulihkan menuju kehidupan yang penuh. Tetapi kemanusiaan tidak akan dipulihkan secara penuh kalau penindasan terhadap kaum miskin tidak diatasi.

Praksis, kontemplasi, dan aksi pembebasan merupakan titik tolak refleksi teologi pembebasan, yang dibantu dengan analisis mengenai situasi kehidupan, menuju praksis baru. Teologi pembebasan dapat disebut sebagai teologi kontekstual dengan kepedulian pembebasan pada kaum miskin dan tertindas.

Menurut Gustavo Gutierrez teologi pembebasan lahir sebagai salah satu usaha mencari sumbangan positif gereja pada masyarakat sehingga iman dirasakan relevan untuk hidup kemasyarakatan. Dalam teologi pembebasan praksis merupakan unsur yang sangat penting. Praksis adalah praksis untuk pembebasan manusia. Pembebasan yang dimaksud bukan saja pembebasan dari kendala sosial, politik, ekonomi, dan budaya di dunia, melainkan pembebasan yang utuh dan menyeluruh sebgaimana manusia dicintai Tuhan Allah untuk berpartisipasi dalam citraNya. Bagi Gutierrez, pembebasan bukan saja sebuah proses, melainkan juga sebuah matriks berbagai tataran arti yang saling bertautan. Pertama, pembebasan ekonomi, sosial, dan politik. Kedua, pembebasan manusiawi, yang menciptakan manusia baru dalam masyarakat solidaritas yang baru. Ketiga, pembebasan dari dosa dan masuk dalam persekutuan dengan Tuhan Allah dan semua manusia

Dari uraian di atas kita melihat bahwa teologi pembebasan merupakan salah satu sumber inspirasi yang mendorong kita dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan sosial. Dalam pemahaman teologi pembebasan kita memahami keterlibatan dan komitmen pemikiran dan kerja untuk pengentasan kemisikinan dan perjuangan keadilan adalah tuntutan keberimanan. Yesus berkata dalam Lukas 4:18-19: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitahukan tahun rahmat Tuhan telah datang. Keprihatinan teologi pembebasan ini sejalan dengan cita-cita kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan sosial. Tidaklah salah, kalau kita menyebutnya sebagai teologi-teologi yang berorientasi kerakyatan, teologi-teologi dari kacamata rakyat miskin dan tertindas. Solidaritas pada penderitaan sesama manusia dan optimisme pada perubahan dalam kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik menjadi dasar sekaligus pendorong. Pekerjaan sosial lahir sebagai bentuk solidaritas kepada penderitaan sesama manusia.Agar pekerjaan tersebut benar-benar memiliki makna, setiap agen-agen perubahan sosial perlu mencari sumber-sumber inspirasi sehingga memantapkan gerak langkahnya untuk terus menggeluti pekerjaan sosial. Dalam kerangka itulah, penulis melihat teologi pembebasan sebagai salah satu sumber inspirasi yang sangat penting.

Sumber: Notatema Gea

Ditulis: www.forniha.com

Pengorganisasian Komunitas

Pengorganisasian sebenarnya bukan kata yang awam baik dikalangan akademisi, maupun dikalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Kata pengorganisasian pertama sekali saya dengar pada tahun 1999 dikota Medan, kala itu saya bekerja disalah satu perusahaan.

Di perusahaan itu banyak hak-hak normative buruh tidak diberikan perusahaan termasuk mengenai hak cuti hait bagi perempuan, sehingga salah satu lembaga swadaya masyarakat yang ada di kota medan melakukan pengorganisasian kepada komunitas buruh yang bekerja di perusahaan tersebut untuk melakukan perlawanan menuntuk hak-haknya yang tidak diberikan oleh perusahaan. Inilah awal saya mulai mengenal dan menggeluti pengorganisasian bagi komunitas.  Dalam pengeorganisasian komunitas yang saya lakukan baik kepada komunitas buruh maupun kepada komunitas petani, saya mengenal 10 (sepuluh langkah pengorganisasian). Kesepuluh langkah pengorganisasian tersebut ialah :

1. INTERGRASI SOSIAL
Integrasi sosial adalah sebuah langkah awal yang harus dilakukan oleh seorang organiser dalam memulai pengorganisasian. Dalam intergrasi social tahap yang harus dilakukan yakni, membangun kontak person, hidup bersama dengan komunitas. Tujuannya adalah agar ia dapat diterima oleh masyarakat itu.

2. INVESTIGASI SOSIAL:
Investigasi sosial merupakan sebuah proses pembelajaran dan analisa yang sistematis mengenai struktur sosial-budaya dan kekuatan atau potensi yang terdapat di target masyarakat yang diorganisir. Dari proses ini diharapkan menghasilkan data terolah yang mampu menggambarkan potret masyarakat yang diorganisir.

3. MEMBANGUN RENCANA & STRATEGI
Perencanaan merupakan sebuah proses untuk mengidentifikasi tujuan dan menterjemahkan tujuan tersebut ke dalam kegiatan yang nyata/konkret dan spesifik. Perencanaan akhir dan pengambilan keputusan akhir dilakukan oleh komunitas yang diorganisir.

4. ANALISA MASALAH
Proses penajaman dari langkah pengorganisasian, merupakan proses diskusi dan saling percaya . Pendekatan yang dilakukan bukan lagi orang per orang tetapi sudah dengan melakukan kelompok-kelompok kecil dengan melakukan dialog mengenai pandangan, impian, analisis, kepercayaan, prilaku yang berkaitan dengan isu/persoalan yang dikeluhkan oleh komunitas. Proses ini bertujuan untuk memastikan keterlibatan kelompok dalam melakukan analisa, pemecahan masalah, dan aksi bersama untuk memecahkan permasalahan tersebut.

5. RAPAT-RAPAT
Setelah melakukan analisa masalah, harus dilakukan rapat-rapat/diskusi bersama dengan komunitas, hal ini dilakukan untuk melakukan klarifikasi dari data data yang sudah dihasilkan melalui analisa

6. BERMAIN PERAN
Merupakan sebuah proses dimana anggota kelompok di aras komunitas melakukan simulasi peran melalui dialog, diskusi, lobi, negoisasi, atau bahkan konfromtrasi dalam sebuah studi kasus terkait dengan isu yang diangkat. Berbagai skenario sebaiknya didesain sehingga memberikan proses pembelajaran bagi komunitas dalam proses penyelesaian masalah.

7. KEGIATAN:
Merupakan sebuah langkah aksi dari komunitas untuk mencoba menyelesaikan permasalahan yang muncul. Bekaitan dengan isu yang diangkat mungkin ini bisa berupa negoisasi dan atau dialog disertai dengan taktik-taktik yang telah dipersiapkan. Terkait dengan permasalahan Ekonomi, Sosial maupun issue lain. Kegiatan ini bisa berupa tindakan mobilisasi anggota dalam komunitas untuk berpartisipasi dalam memulai kegiatan-kegiatan yang dapat menyelesaiakan permasalahan mereka.

8. MEMBANGUN ORGANISASI RAKYAT
tujuan dari pengorganisasian komunitas salah satunya adalah membangun organisasi rakyat yang kokoh sehingga mampu menjadi media yang dapat menjembatani segala persoalan dan aspirasi yang ada di aras komunitas. Proses untuk menentukan pemimpin organisasi, peran-peran dalam organisasi disepati secara demokratis. Demikian juga budaya organisasi dan kesiapan manajemen juga diinisiasi untuk menjamin keberlanjutan organisasi

9. EVALUASI

Sebuah proses dimana anggota kelompok menilai tentang proses pembelajaran, apa yang mereka dapat dari serangkaian kegiatan yang dilakukan, apa yang tidak diraih terkait dengan indikator / hasil yang ditetapkan dalam perencanaan, apa kelebihan dan kelemahan dari proses pelaksanaan aksi yang telah dilakukan dan bagaimana cara meminimalkan segala kelemahan dan kesalahan yang telah dilakukan.

10. REFLEKSI

Sebuah langkah yang seringkali dianggap sepele tetapi disinilah kekuatan spirit sebuah gerakan dalam proses pengorganisasian. Proses refleksi adalah sebuah proses dimana dimensi rasa lebih mengutama untuk kemudian mendorong proses kesadaran diri dari anggota kelompok dalam komunitas. Dalam refleksi, proses pencerahan yang terjadi di masing-masing anggota kelompok di aras komunitas dibagikan berbasis pada pengalaman mereka ketika berproses pada saat melakukan aksi.

Tujuan Pengorganisasian Komunitas

Membangun kekuatan masyarakat: Pengorganisasian komunitas bertujuan untuk mendorong secara efektif modal sosial masyarakat agar mempunyai kekuatan untuk menyelesaikan permasalahannya secara mandiri. Melalui proses CO, masyarakat diharapkan mampu belajar untuk menyelesaikan ketidakberdayaannya dan mengembangkan potensinya dalam mengontrol lingkungannya dan memulai untuk menentukan sendiri nasibnya di masa depan. Hal itu merupakan perwujudan progresif dari kemampuan yang mereka miliki dan kemampuan untuk mempengaruhi sejarah yang secara dramatis menghilangkan proses dehumanisasi. Sedang dalam proses menghadapi struktur dan institusi yang menekankan (mereka), orang-orang diubah dari obyek dehumanisasi ke dalam manusia [siapa] yang menyatakan [hak/ kebenaran] mereka, menentukan tujuan mereka dan berdiri dengan martabat secara keseluruhan manusia.

Memperkokoh kekuatan komunitas basis: Pengorganisasian komunitas bertujuan untuk membangun dan menjaga keberlanjutan sebuah organisasi yang kokoh yang dapat memberikan pelayanan terhadap permasalahan-permasalahan dan aspirasi di aras komunitas. Organisasi di aras komunitas dapat menjamin tingkat partisipasi, pada saat bersamaan, mengembangkan dan memperjumpakan dengan organisasi atau kelompok lain untuk semakin memperkokoh kekuatan komunitas. Membangun
jaringan: kelompok organisasi di aras komunitas dan seorang community organizer harus membangun dan tergabung dalam aliansi-aliansi strategis untuk menambah proses pembelajaran dan menambah kekuatan diri. Dalam proses pengorganisasian komunitas, ada beberapa nilai yang harus dibangun yakni:

1. Mulai dari apa yang ada
Proses pengorganisasian berawal dan dibangun di tingkat lokal, kecil, terdapat isu konkret yang digali di aras komunitas dimana sekelompok orang mau terlibat. Menekankan pada intensitas dan persiapan yang matang dari sekian banyak orang terlibat. Keterlibatan tersebut mulai dari identifikasi isu, pengambilan keputusan, evaluasi, dan refleksi dari proses yang telah dijalani bersama. Pengorganisasian komunitas merupakan sebuah proses dinamis, berkelanjutan dan bisa dikembangkan ke langkah-langkah selanjutnya dari lingkup lokal sampai ke lingkup nasional bahkan internasional, dan dari isu yang konkret ke isu yang lebih makro bahkan global.

2. Membangun kesadaran melalui proses belajar dari pengalaman
Inti dari proses pengorganisasian komunitas adalah pengembangan kesadaran dan pemahaman untuk bertindak sesuai dengan kenyataan. Conscientisasi (ketersadaran) tidak bisa dicapai melalui mekanisme hafalan yang biasa diterapkan oleh sistem pendidikan bermodel bank system menganggap manusia sebagai obyek yang pikirannya bisa diisi apa saja-. Pencapaian ketersadaran diperoleh melalui tindakan dengan belajar dari pengalaman-pengalaman hidup. Oleh karena itu, pengorganiasian komunitas memberikan penekanan pada proses belajar dengan melakukan pencarian kebenaran dan pencerahan secara terus menerus melalui media-media aktivitas bersama. Sesuatu yang benar sekarang belum tentu benar untuk masa yang akan datang, manusia dituntut untuk terus mencari kebenaran yang hakiki dari proses dialektika antara teori dan praktek.

3. Keterlibatan dan Keteladanan
Community organizer (CO) dalam pengorganisasian komunitas mempunyai kecenderungan untuk membela yang lemah/miskin, yang tidak berdaya dan tertindas. Tetapi sikap tersebut tidaklah cukup. Perubahan harus dicapai melalui suatu proses partisipatif dimana keseluruhan masyarakat terlibat untuk mempunyai pengalaman dalam mengorganisir.

4. Kepemimpinan
Mereka yang melakukan pengorganisasian komunitas bukanlah pemimpin, juga bukan individu dan kepribadian. Community organizer (CO) adalah pusat dari kelompok, tetapi tidak berorientasi untuk menjadi pemimpin. Pemimpin sebaiknya teridentifikasi, muncul dan telah diuji dalam tindakan dan bukan terpilih karena kekuatan dari luar kelompok. Pemimpin harus mampu mempertanggungjawabkan tindakannya pada publik.

Sumber : Filemon La’ia

Ditulis: www.forniha.com

Dimana Letak Bahagia Anda?

“Tempat untuk berbahagia itu ada di
sini. Waktu untuk berbahagia itu kini.
Cara untuk berbahagia ialah dengan
membuat orang lain berbahagia”
– Robert G. Ingersoll

Apakah anda saat ini merasa bahagia?

Di mana letak kebahagiaan Anda
sesungguhnya? Apakah pada moleknya
tubuh? ..Jelitanya rupa? Tumpukan
harta?

….atau barangkali punya mobil mewah &
tingginya jabatan?

Jika itu semua sudah Anda dapatkan,
apakah Anda bisa memastikan bahwa
Anda *akan* bahagia?

Hari ini saya akan mengajak Anda untuk
melihat, kalau limpahan harta tidak
selalu mengantarkan pada kebahagiaan

Dan ini kisah nyata…

Ada delapan orang miliuner yang memiliki
nasib kurang menyenangkan di akhir
hidupnya. Tahun 1923, para miliuner
berkumpul di Hotel Edge Water Beach
di Chicago, Amerika Serikat. Saat itu,
mereka adalah kumpulan orang-orang yang
sangat sukses di zamannya.

Namun, tengoklah nasib tragis mereka 25
tahun sesudahnya! Saya akan menyebutnya
satu persatu :

=> Charles Schwab, CEO Bethlehem Steel,
perusahaan besi baja ternama waktu itu.

Dia mengalami kebangkrutan total,
hingga harus berhutang untuk membiayai
5 tahun hidupnya sebelum meninggal.

=> Richard Whitney, President New York
Stock Exchange. Pria ini harus
menghabiskan sisa hidupnya dipenjara
Sing Sing.

=> Jesse Livermore (raja saham “The
Great Bear” di Wall Street), Ivar
Krueger (CEO perusahaan hak cipta),
Leon Fraser (Chairman of Bank of
International Settlement), ketiganya
memilih mati bunuh diri.

=> Howard Hupson, CEO perusahaan gas
terbesar di Amerika Utara. Hupson
sakit jiwa dan meninggal di rumah
sakit jiwa.

=> Arthur Cutton, pemilik pabrik tepung
terbesar di dunia, meninggal di
negeri orang lain.

=> Albert Fall, anggota kabinet
presiden Amerika Serikat, meninggal
di rumahnya ketika baru saja keluar
dari penjara.

Kisah di atas merupakan bukti, bahwa
kekayaan yang melimpah bukan jaminan
akhir kehidupan yang bahagia!

Kebahagiaan memang menjadi faktor yang
begitu didambakan bagi semua orang.

Hampir segala tujuan muaranya ada pada
kebahagiaan. Kebanyakan orang baru bisa
merasakan *hidup* jika sudah menemukan
kebahagiaan.

Pertanyaannya, di mana kita bisa
mencari kebahagiaan?

Apakah di pusat pertokoan? Salon
kecantikan yg mahal? Restoran mewah?
Di Hawaii? di Paris? atau di mana?

Sesungguhnya, kebahagiaan itu tdk perlu
dicari kemana-mana… karena ia ada
di hati setiap manusia.

Carilah kebahagiaan dalam hatimu!
Telusuri ‘rasa’ itu dalam kalbumu!
Percayalah, ia tak akan lari kemana-mana…

Hari ini saya akan berbagi tips
bagaimana kita sesungguhnya bisa
mendapatkan kebahagiaan *setiap hari*.

Berikut adalah tips yang bisa Anda
lakukan:

1. Mulailah Berbagi!

Ciptakan suasana bahagia dengan cara
berbagi dengan orang lain. Dengan cara
berbagi akan menjadikan hidup kita
terasa lebih berarti.

2. Bebaskan hati dari rasa benci,
bebaskan pikiran dari segala
kekhawatiran.

Menyimpan rasa benci, marah atau dengki
hanya akan membuat hati merasa tidak
nyaman dan tersiksa.

3. Murahlah dalam memaafkan!

Jika ada orang yang menyakiti, jangan
balik memaki-maki. Mendingan berteriak
“Hey! Kamu sudah saya maafkan!!”.

Dengan memiliki sikap demikian, hati
kita akan menjadi lebih tenang, dan
amarah kita bisa hilang. Tidak percaya?
Coba saja! Saya sering melakukannya. :-)

4. Lakukan sesuatu yang bermakna.

Hidup di dunia ini hanya sementara.
Lebih baik Anda gunakan setiap waktu
dan kesempatan yang ada untuk melakukan
hal-hal yang bermakna, untuk diri
sendiri, keluarga, dan orang lain.

Dengan cara seperti ini maka
kebahagiaan Anda akan bertambah dan
terus bertambah.

5. Dan yang terakhir, anda jangan
terlalu banyak berharap pada orang
lain, nanti Anda akan kecewa!

Ingat, kebahagiaan merupakan tanggung
jawab masing-masing, bukan tanggung
jawab teman, keluarga, kekasih, atau
orang lain.

Lebih baik kita perbanyak harap hanya
kepada Yang Maha Kasih dan Kaya.

Karena Dia-lah yang menciptakan kita,
dan Dia-lah yang menciptakan segala
‘rasa’, termasuk rasa bahagia yang
selalu Anda inginkan. ^_^’

Ditulis: Anne Ahira

Sempatkan Untuk Mendengar

“Teman… Mendengarlah dengan sabar, maka
kita akan menemukan banyak hikmah dari
yang disampaikan orang lain kepada kita”

Banyak orang bisa ‘berkata’, namun
sedikit yang mau ‘mendengar’.

Padahal jika kita mau kembali ke hukum
alam, seharusnya kita harus lebih
banyak mendengar daripada bicara.
Bukankah Tuhan memberi kita dua
telinga dan hanya satu mulut? :-)

Begitupun jika kita saksikan pada bayi
yang baru lahir. Indra pendengaran
lebih dulu berfungsi daripada yang
lainnya. Lalu, mengapa mendengar lebih
susah daripada berbicara?

Meski secara kasat mata mendengar
adalah hal yang gampang, namun nyatanya
banyak orang yang lebih suka
didengarkan daripada mendengarkan.
Mendengarkan merupakan bagian esensi
yang menentukan komunikasi efektif.
Tanpa kemampuan mendengar yang bagus,
biasanya akan muncul banyak masalah.

Yang sering terjadi, kita merasa bahwa
kitalah yang paling benar. Kita tidak
tertarik untuk mendengarkan opini yang
berbeda dan hanya tergantung pada cara
kita.

Selalu merasa benar, paling kompeten,
dan tidak pernah melakukan kesalahan.
Duh… malaikat kali! :-)

Jika kita selalu merasa bahwa diri kita
benar, dan cara kitalah yang paling
tepat, itu berarti kita tidak pernah
mendengarkan.

Ide dan opini kita sangat sukar untuk
diubah jika fakta tidak mendukung
keyakinan kita. Bahkan kalau ada fakta
pun kita mungkin hanya akan sekedar
meliriknya saja.

Mungkin saat ini kita nyaman dengan
cara kita, tapi untuk jangka waktu yg
panjang, orang-orang akan menolak dan
membenci kita.

Jika kita mau mulai mendengarkan
orang lain, maka suatu saat kita akan
menyadari kesalahan kita. Jawaban
untuk mengatasi sifat ini adalah
mengasah skill mendengar aktif.

Mendengar tidak selalu dengan tutup
mulut, tapi juga melibatkan partisipasi
aktif kita. Mendengar yang baik bukan
berharap datangnya giliran berbicara.

Mendengar adalah komitmen untuk
memahami pembicaraan dan perasaan lawan
bicara kita. Ini juga sebagai bentuk
penghargaan bahwa apa yang orang lain
bicarakan adalah bermanfaat untuk kita.
Pada saat yang sama kita juga bisa
mengambil manfaat yang maksimal dari
pembicaraan tersebut.

Seni mendengar dapat membangun sebuah
relationship. Jika kita melakukannya
dengan baik, orang-orang akan tertarik
dengan kita dan interaksi kita akan
semakin harmonis.

Berikut teknik mudah yang dapat
Anda praktekkan dengan sangat
wajar untuk menjadi seorang pendengar
yang baik :

1. Peliharalah kontak mata dengan baik.
Ini menunjukkan kepada lawan bicara
tentang keterbukaan dan kesungguhan
kita

2. Condongkan tubuh ke depan.
Ini menunjukkan ketertarikan kita
pada topik pembicaraan. Cara ini
juga akan mengingatkan kita untuk
memiliki sudat pandang yang lain,
yaitu tidak hanya fokus pada diri
kita.

3. Buat pertanyaan ketika ada hal yang
butuh klarifikasi atau ada informasi
baru yang perlu kita selidiki dari
lawan bicara kita.

4. Buat selingan pembicaraan yang
menarik. Hal ini bisa membuat
percakapan lebih hidup dan tidak
monoton.

5. Cuplik atau ulang beberapa kata
yang diucapkan oleh lawan bicara kita.
Ini menunjukkan bahwa kita memang
mendengarkan dengan baik hingga hapal
beberapa cuplikan kata.

6. Buatlah komitmen untuk memahami
apa yang ia katakan, meskipun kita tidak
suka atau marah. Dari sini kita akan
mengetahui nilai-nilai yang diterapkan
lawan bicara kita, yang mungkin berbeda
dengan nilai yang kita terapkan.

Dengan berusaha untuk memahami, bisa
jadi kita akan menemukan sudut pandang,
wawasan, persepsi atau kesadaran baru,
yang tidak terpikirkan oleh kita
sebelumnya.

Seorang pendengar yang baik sebenarnya
hampir sama menariknya dengan pembicara
yang baik. Jika kita selalu pada pola
yang benar untuk jangka waktu tertentu,
maka suatu saat kita akan merasakan
manfaatnya.

Prosesnya mungkin akan terasa lama dan
menjemukan, tapi lama-kelamaan akan
terasa berharganya upaya yang telah
kita lakukan. Kita akan merasa lebih
baik atas diri kita, hubungan kita,
teman-teman kita, anak-anak kita,
maupun pekerjaan.

Kesimpulan: Jadilah pendengar yang
baik, karena sifat ini bisa menjadi
kunci untuk mengembangkan pikiran
yang positif, dan merupakan salah satu
tangga bagi Anda untuk mencapai kesuksesan! :-)

Ditulis: Anne Ahira

Keuntungan Pendengar yang Baik

Edgar Watson Howe berkata, “Tak seorang pun mau mendengarkan Anda bicara kalau ia tidak tahu bahwa selanjutnya adalah gilirannya untuk berbicara” Artinya, dimana saja kita akan menemukan banyak orang yang lebih senang berbicara daripada menjadi pendengar yang baik.

(Amsal 18:15) Hati orang berpengertian memperoleh pengetahuan, dan telinga orang bijak menuntut pengetahuan.

Firman Tuhan mengajarkan kita tentang hukum membangun hubungan, bahwasanya adalah lebih baik banyak mendengar dari pada berkata-kata. “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.” (Ams 10:19). Jika kita mau mencermati, maka kita akan menemukan kebenaran bahwa kita tidak akan belajar apapun jika kita terus menerus berbicara, tanpa memberi kesempatan pada orang lain untuk berbicara. Setidaknya ada lima manfaat yang kita dapatkan jika kita mau mengembangkan seni mendengarkan dengan baik.

Pertama, dengan mendengar kita sedang mengembangkan kemampuan untuk menghormati sesama. Sikap yang menghormati tercermin ketika kita dengan baik mendengarkan orang yang sedang berbicara kepada kita. Bayangkan, jika kita sedang berbicara dan lawan bicara kita sibuk memainkan handphone, membuka buku, memperbaiki make up-nya, bersiul-siul, atau pandangannya kosong karena pikirannya melayang-layang. Apakah semua itu menunjukan bahwa ia menghargai kita? Orang yang tahu menghargai sesamanya akan memberi perhatian pada orang yang sedang berbicara kapadanya.

Kedua, dengan mendengarkan kita sedang membangun hubungan yang baik dengan sesama. Jika kita menjadi pendengar yang baik maka kita akan mampu membangun hubungan yang akrab dengan banyak orang. Orang akan membuka diri karena ia menemukan orang yang dibutuhkannya, yaitu kita yang siap dan mau dengan baik mendengarkannya.

Ketiga, dengan mendengar kita sedang meningkatkan pengetahuan dan berpeluang mendapatkan ide ide. Ketika kita mendengar dengan baik, kita mendapatkan kesempatan untuk menyimak dan mengingat point-point yang bisa dijadikan pelajaran dari apa yang diungkapkan orang lain kepada kita. Jika kita memberi kesempatan kepada sesama untuk mengemukakan pemikiran-pemikiran nya dan kita mendengarkan dengan pikiran yang terbuka, maka di pikiran kita akan mengalir ide-ide baru.

Keempat, dengan mendengar kita sedang membangun loyalitas. Jika kita tidak dengan baik mendengarkan pasangan, anak-anak, karyawan, atau kolega kita, maka mereka akan menjauhi kita dan mencari orang yang mau mendengarkan mereka. Tapi jika kita memberi hati dan perhatian, maka mereka akan mencari dan mempercayai kita.

Kelima, dengan mendengar kita sedang membantu sesama. Setidaknya, jika kita belum memperoleh manfaat untuk diri sendiri, kita sudah membantu sesama.

DOA: Bapa, aku menyadari bahwa tidak mudah memberikan hati dan telinga untuk mendengarkan sesamaku, tapi aku berdoa agar Engkau memampukanku. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.

Menegur dengan Kasih & Try Again

Yang dimaksud dengan menegur adalah memberi teguran, menasehati, mendidik dan mengingatkan. Sikap orang dalam menerima teguran bermacam-macam. Ada yang menerima dengan senang hati, ada yang biasa-biasa saja, ada yang mengiyakan hanya untuk mempercepat proses pembicaraan, ada yang menolak dengan tegas, ada yang berkelit, bahkan ada yang tersinggung dan marah, serta masih banyak lagi reaksi lainnya.

Beberapa kebenaran yang perlu kita ketahui saat menegur orang lain:
1. Menegur haruslah dilandasi dengan kasih. Memang terdapat resiko orang yang ditegur menjadi tidak menyukai kita, tetapi kalau memang ia perlu ditegur, tegurlah!

Mengasihi bukan berarti harus selalu setuju, harus selalu mengiyakan, harus selalu tersenyum manis. Untuk mengasihi diperlukan teguran yang dibungkus dengan kejujuran dan keterusterangan, tanpa pura-pura.

Menegur yang dilandasi oleh kasih akan menutupi pelanggaran orang tersebut. Orang yang ditegur dengan kasih akan lebih mudah menerima teguran yang ditujukan kepadanya dan akibatnya kemungkinan untuk yang bersangkutan berubah menjadi lebih besar. Sebaliknya bila kita menegur dengan tidak berlandaskan kasih, hasilnya adalah pertengkaran. Pertengkaran bukanlah tujuan akhir yang ingin kita capai.

2. Menegur haruslah dengan hikmat. Hikmat akan membantu kita untuk memberi teguran yang tepat. Hikmat di sini berarti meliputi teknik, cara, kata-kata, waktu, tempat, serta situasi dan kondisi untuk penyampaian teguran yang tepat.

3. Hasil dari menegur dengan menggunakan hikmat akan berbuah manis. Awalnya mungkin terdapat gesekan, bahkan mungkin dapat menciptakan konflik dengan yang bersangkutan. Namun, kita tetap perlu mengambil resiko ini.

4. Jangan menahan teguran karena takut terhadap resiko gesekan dan konflik.
Salah satu bentuk kasih adalah teguran yang berhikmat. Saat kita tidak melakukan hal ini, kita berarti tidak takut pada Tuhan. Tidak takut pada Tuhan berarti dosa. Jangan takut menegur bila memang diperlukan!

Lalu bagaimana menegur dengan menggunakan hikmat?
1. Menegur dengan lemah lembut. Kelemahlembutan merupakan salah satu buah Roh yang diperlukan (Galatia 5:23). Lemah lembut bukan berarti lemah atau plin-plan. Lemah lembut merupakan sikap hati yang mau mengerti kondisi dan keterbatasan orang lain.

2. Mengetahui dengan jelas orang-orang yang perlu ditegur, orang-orang yang tidak perlu ditegur, saat dan situasi yang tepat untuk menegur. Walaupun saat kita tahu seseorang itu salah, ada saatnya kita perlu menggunakan hikmat. Ya, tidak serta merta kita dapat menegur, bahkan kadang-kadang menahan teguran atau tidak memberikan teguran memerlukan suatu hikmat tersendiri.

Berikut sejumlah ciri-ciri orang yang tidak perlu ditegur atau Anda sebaiknya menahan teguran pada waktu yang lain:

- Orang yang tidak mau mendengarkan teguran dan tidak mempedulikan teguran, bahkan membenci teguran. Orang-orang ini adalah orang yang akan menguras emosi kita. Jadi, jangan habiskan waktu, tenaga, dan emosi untuk orang yang tidak mau mendengar. Bukan karena kita tidak peduli, tetapi memang ada kesempatan lain yang lebih tepat untuk menegur. Cukup bawa orang ini dalam DOA.

- Orang yang gemar bersilat kata. Saat Anda memberi teguran pada orang yang gemar bersilat kata, orang ini akan terus-menerus memberi jawaban dan alasan. Hemat nafas Anda! Hentikan sampai di situ dan bawa orang ini dalam DOA.

Cara-cara menegur adalah demikian:
1. Menegur hanya berdua saja, tidak di depan orang lain. Orang akan lebih mudah menurunkan ego bila ditegur berdua saja tanpa kehadiran orang lain. Pada saat ada orang lain yang hadir, kecenderungan untuk membela diri dan mempertahankan ego akan lebih besar daripada saat hanya berdua.

2. Bila berdua saja tidak mempan, minta bantuan 1 atau 2 orang lain untuk menegur. Ini harus melihat kasusnya juga. Tidak semua kasus dapat diperlakukan sama. Jika memang diperlukan bantuan dari 1 atau 2 orang lain, lakukanlah!

3. Bila setelah minta bantuan dari 1 atau 2 orang tetap tidak mempan juga, minta bantuan lebih banyak orang. Ini hanya perlu dilakukan untuk kasus-kasus yang sangat serius. Untuk kasus-kasus yang dapat mengundang keresahan bagi orang banyak, hal ini perlu dilakukan. Bila yang bersangkutan masih tidak mau mendengarkan teguran, hemat nafas Anda! Cukup bawa yang bersangkutan dalam DOA Anda.

Jadi, Anda siap memberi teguran? Amin.

Try Again

“Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.”

Suatu kali ayah Randi sedang melatih anaknya bersepeda di sebuah taman yang ada di depan rumah mereka. Awalnya, sang ayah memegang dari samping sepeda yang dikendarai Randi. Dengan sabar, ia mengajari anaknya itu bagaimana mengayuh sepeda dan menyeimbangkan badan. Namun, tiba-tiba sang ayah melepaskan tangannya dari sepeda, tentu saja Randi yang belum siap ketika itu pun jatuh.

Air mata Randi keluar saat ia melihat ada darah keluar dari kakinya. Perih, itulah yang dirasakannya ketika itu. Sang ayah yang tidak jauh dari jatuh anaknya itu pun hanya tersenyum dan mendatangi Randi yang sedang menangis dan memegang kakinya yang luka. Ia pun mendatangi anaknya dan memegang kakinya. Dengan santai, ia berkata kepada anaknya, “ah, ini mah gak papa, besok juga lukanya udah kering. Randi, masih mau melanjutkan latihan sepedanya atau tidak?”

Randi yang mendapat pertanyaan dari sang ayah pun terdiam. Air matanya berhenti saat itu dan pikirannya saat itu berputar. Sambil terisak-isak, ia menganggukkan kepalanya tanda untuk mau latihan. Sang ayah pun mengambil sepeda dan meminta anaknya untuk bangkit kembali. Dengan menahan rasa perih, ia pun menuruti permintaan ayahnya. Sepeda kembali ia dipegang dan Randi pun duduk di jok sepedanya.

Sewaktu sang ayah ingin membantunya untuk mengendarai sepeda, tawaran itu ia tolak. Ia meminta ayahnya untuk berada cukup jauh dari dirinya. Sambil menghela nafas panjang, Randi pun mulai mengayuh sepedanya. Pada ayuhan yang pertama dia begitu senang karena ia bisa mengendalikan sepedanya, tapi itu tidak berlangsung lama dan dia pun terjatuh. Hal itu terus terjadi sampai usahanya yang ke-9.

Pada usahanya yang ke-10, Randi kembali mengambil sepedanya. Dia pun dengan semangat mengangkat sepeda yang telah jatuh ke tanah dan kembali mencoba mengayuh sepedanya. Dan usahanya kali ini berhasil. Randi telah bisa menguasai sepedanya seorang diri. Ia pun menghampiri ayahnya dan mengatakan bahwa ia telah bisa berhasil mengendarai sepeda.

Tuhan menginginkan hal yang sama kepada kita. Walaupun mempunyai kuasa untuk menolong saat kita sedang dalam masa “jatuh”, Dia ingin kita tetap berusaha untuk bangkit. Dia mau anak-anakNya menjadi anak yang tangguh; anak-anak yang tidak mudah menyerah oleh keadaan yang sukar; anak-anak yang berkata “ya” kepada kebenaran firman Tuhan dan “tidak” kepada dosa.

Saat ini Tuhan bertanya kepada Anda, “apakah engkau mau melanjutkan ujian dari-Ku dan menjadi pemenang sejati?” jika iya, berusaha terus saat Anda merasa gagal dan jatuh. Percayalah tangan-Nya selalu tersedia dan siap membantu ketika Anda membutuhkannya.

Untuk melihat janji Tuhan digenapi, terkadang Anda harus mengeluarkan usaha yang ekstra.

Kasih Terbesar

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya…”

Pada suatu siang, sebuah peluru mortir mendarat di sebuah panti asuhan di sebuah perkampungan kecil Vietnam. Seorang petugas panti asuhan dan dua orang anak langsung tewas, beberapa anak lainnya terluka, termasuk seorang gadis kecil yang berusia sekitar 8 tahun.

Orang-orang dari kampung tersebut segera meminta pertolongan medis dari kota terdekat. Akhirnya, seorang dokter Angkatan Laut Amerika dan seorang perawat dari Perancis yang kebetulan berada di kota itu bersedia menolong. Dengan membawa Jeep yang berisi obat-obatan dan perlengkapan medis mereka berangkat menuju panti asuhan tersebut.

Setelah melihat keadaan gadis kecil itu, dokter menyimpulkan bahwa anak tersebut sudah dalam keadaan yang sangat kritis. Tanpa tindakan cepat, anak itu akan segera meninggal kehabisan darah. Transfusi darah adalah jalan terbaik untuk keluar dari masa kritis ini.

Dokter dan perawat tersebut segera mengadakan pengujian singkat kepada orang-orang di panti asuhan – termasuk anak-anak, untuk menemukan golongan darah yang cocok dengan gadis kecil itu. Dari pengujian tersebut ditemukan beberapa orang anak yang memiliki kecocokan darah dengan gadis kecil tersebut.

Sang dokter, yang tidak begitu lancar berberbahasa Vietnam – berusaha keras menerangkan kepada anak-anak tersebut – bahwa gadis kecil itu hanya bisa ditolong dengan menggunakan darah salah satu anak-anak itu. Kemudian, dengan berbagai bahasa isyarat, tim medis menanyakan apakah ada di antara anak-anak itu yang bersedia menyumbangkan darahnya bagi si gadis kecil yang terluka parah.

Permintaan itu ditanggapi dengan diam seribu bahasa. Setelah agak lama, seorang anak mengacungkan tangannya perlahan-lahan, tetapi dalam keraguan ia menurunkan tangannya lagi, walaupun sesaat kemudian ia mengacungkan tangannya lagi.

“Oh, terima kasih,” kata perawat itu terpatah-patah. “Siapa namamu ?”

“Heng,” jawab anak itu.

Heng kemudian dibaringkan ke tandu, lengannya diusap dengan alkohol, dan kemudian sebatang jarum dimasukkan ke dalam pembuluh darahnya. Selama proses ini, Heng terbaring kaku, tidak bergerak sama sekali.

Namun, beberapa saat kemudian ia menangis terisak-isak, dan dengan cepat menutupi wajahnya dengan tangannya yang bebas.

“Apakah engkau kesakitan, Heng ?” tanya dokter itu. Heng menggelengkan kepalanya, tetapi tidak lama kemudian Heng menangis lagi, kali ini lebih keras. Sekali lagi dokter bertanya, apakah jarum yang menusuknya tersebut membuatnya sakit, dan Heng menggelengkan kepalanya lagi.

Tetapi tangisan itu tidak juga berhenti, malah makin memilukan. Mata Heng terpejam rapat, sedangkan tangannya berusaha menutup mulutnya untuk menahan isakan tangis.

Tim medis itu menjadi khawatir, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Untunglah seorang perawat Vietnam segera datang. Melihat anak kecil itu yang tampak tertekan – ia berbicara cepat dalam bahasa Vietnam. Perawat Vietnam itu mendengarkan jawaban anak itu dengan penuh perhatian, dan kemudian perawat itu menjelaskan sesuatu pada Heng dengan nada suara yang menghibur.

Anak itu mulai berhenti menangis – dan menatap lembut mata perawat Vietnam itu beberapa saat. Ketika perawat Vietnam itu mengangguk – tampak sinar kelegaan menyinari wajah Heng.

Sambil melihat ke atas, perawat itu berkata lirih kepada dokter Amerika tersebut, “Ia mengira bahwa ia akan mati. Ia salah paham. Ia mengira anda memintanya untuk memberikan seluruh darahnya agar gadis kecil itu tetap hidup.”

“Tetapi kenapa ia tetap mau melakukannya ?” tanya sang perawat Perancis dengan heran.

Perawat Vietnam itu kembali bertanya kepada Heng.. dan Heng pun menjawab dengan singkat :

“Ia sahabat saya..”

(Seperti yang ditulis oleh Kolonel dr. John W. Mansur, – termuat dalam buku “The Missileer”, New York, 2004)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.