Pengorganisasian Komunitas

Pengorganisasian sebenarnya bukan kata yang awam baik dikalangan akademisi, maupun dikalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Kata pengorganisasian pertama sekali saya dengar pada tahun 1999 dikota Medan, kala itu saya bekerja disalah satu perusahaan.

Di perusahaan itu banyak hak-hak normative buruh tidak diberikan perusahaan termasuk mengenai hak cuti hait bagi perempuan, sehingga salah satu lembaga swadaya masyarakat yang ada di kota medan melakukan pengorganisasian kepada komunitas buruh yang bekerja di perusahaan tersebut untuk melakukan perlawanan menuntuk hak-haknya yang tidak diberikan oleh perusahaan. Inilah awal saya mulai mengenal dan menggeluti pengorganisasian bagi komunitas.  Dalam pengeorganisasian komunitas yang saya lakukan baik kepada komunitas buruh maupun kepada komunitas petani, saya mengenal 10 (sepuluh langkah pengorganisasian). Kesepuluh langkah pengorganisasian tersebut ialah :

1. INTERGRASI SOSIAL
Integrasi sosial adalah sebuah langkah awal yang harus dilakukan oleh seorang organiser dalam memulai pengorganisasian. Dalam intergrasi social tahap yang harus dilakukan yakni, membangun kontak person, hidup bersama dengan komunitas. Tujuannya adalah agar ia dapat diterima oleh masyarakat itu.

2. INVESTIGASI SOSIAL:
Investigasi sosial merupakan sebuah proses pembelajaran dan analisa yang sistematis mengenai struktur sosial-budaya dan kekuatan atau potensi yang terdapat di target masyarakat yang diorganisir. Dari proses ini diharapkan menghasilkan data terolah yang mampu menggambarkan potret masyarakat yang diorganisir.

3. MEMBANGUN RENCANA & STRATEGI
Perencanaan merupakan sebuah proses untuk mengidentifikasi tujuan dan menterjemahkan tujuan tersebut ke dalam kegiatan yang nyata/konkret dan spesifik. Perencanaan akhir dan pengambilan keputusan akhir dilakukan oleh komunitas yang diorganisir.

4. ANALISA MASALAH
Proses penajaman dari langkah pengorganisasian, merupakan proses diskusi dan saling percaya . Pendekatan yang dilakukan bukan lagi orang per orang tetapi sudah dengan melakukan kelompok-kelompok kecil dengan melakukan dialog mengenai pandangan, impian, analisis, kepercayaan, prilaku yang berkaitan dengan isu/persoalan yang dikeluhkan oleh komunitas. Proses ini bertujuan untuk memastikan keterlibatan kelompok dalam melakukan analisa, pemecahan masalah, dan aksi bersama untuk memecahkan permasalahan tersebut.

5. RAPAT-RAPAT
Setelah melakukan analisa masalah, harus dilakukan rapat-rapat/diskusi bersama dengan komunitas, hal ini dilakukan untuk melakukan klarifikasi dari data data yang sudah dihasilkan melalui analisa

6. BERMAIN PERAN
Merupakan sebuah proses dimana anggota kelompok di aras komunitas melakukan simulasi peran melalui dialog, diskusi, lobi, negoisasi, atau bahkan konfromtrasi dalam sebuah studi kasus terkait dengan isu yang diangkat. Berbagai skenario sebaiknya didesain sehingga memberikan proses pembelajaran bagi komunitas dalam proses penyelesaian masalah.

7. KEGIATAN:
Merupakan sebuah langkah aksi dari komunitas untuk mencoba menyelesaikan permasalahan yang muncul. Bekaitan dengan isu yang diangkat mungkin ini bisa berupa negoisasi dan atau dialog disertai dengan taktik-taktik yang telah dipersiapkan. Terkait dengan permasalahan Ekonomi, Sosial maupun issue lain. Kegiatan ini bisa berupa tindakan mobilisasi anggota dalam komunitas untuk berpartisipasi dalam memulai kegiatan-kegiatan yang dapat menyelesaiakan permasalahan mereka.

8. MEMBANGUN ORGANISASI RAKYAT
tujuan dari pengorganisasian komunitas salah satunya adalah membangun organisasi rakyat yang kokoh sehingga mampu menjadi media yang dapat menjembatani segala persoalan dan aspirasi yang ada di aras komunitas. Proses untuk menentukan pemimpin organisasi, peran-peran dalam organisasi disepati secara demokratis. Demikian juga budaya organisasi dan kesiapan manajemen juga diinisiasi untuk menjamin keberlanjutan organisasi

9. EVALUASI

Sebuah proses dimana anggota kelompok menilai tentang proses pembelajaran, apa yang mereka dapat dari serangkaian kegiatan yang dilakukan, apa yang tidak diraih terkait dengan indikator / hasil yang ditetapkan dalam perencanaan, apa kelebihan dan kelemahan dari proses pelaksanaan aksi yang telah dilakukan dan bagaimana cara meminimalkan segala kelemahan dan kesalahan yang telah dilakukan.

10. REFLEKSI

Sebuah langkah yang seringkali dianggap sepele tetapi disinilah kekuatan spirit sebuah gerakan dalam proses pengorganisasian. Proses refleksi adalah sebuah proses dimana dimensi rasa lebih mengutama untuk kemudian mendorong proses kesadaran diri dari anggota kelompok dalam komunitas. Dalam refleksi, proses pencerahan yang terjadi di masing-masing anggota kelompok di aras komunitas dibagikan berbasis pada pengalaman mereka ketika berproses pada saat melakukan aksi.

Tujuan Pengorganisasian Komunitas

Membangun kekuatan masyarakat: Pengorganisasian komunitas bertujuan untuk mendorong secara efektif modal sosial masyarakat agar mempunyai kekuatan untuk menyelesaikan permasalahannya secara mandiri. Melalui proses CO, masyarakat diharapkan mampu belajar untuk menyelesaikan ketidakberdayaannya dan mengembangkan potensinya dalam mengontrol lingkungannya dan memulai untuk menentukan sendiri nasibnya di masa depan. Hal itu merupakan perwujudan progresif dari kemampuan yang mereka miliki dan kemampuan untuk mempengaruhi sejarah yang secara dramatis menghilangkan proses dehumanisasi. Sedang dalam proses menghadapi struktur dan institusi yang menekankan (mereka), orang-orang diubah dari obyek dehumanisasi ke dalam manusia [siapa] yang menyatakan [hak/ kebenaran] mereka, menentukan tujuan mereka dan berdiri dengan martabat secara keseluruhan manusia.

Memperkokoh kekuatan komunitas basis: Pengorganisasian komunitas bertujuan untuk membangun dan menjaga keberlanjutan sebuah organisasi yang kokoh yang dapat memberikan pelayanan terhadap permasalahan-permasalahan dan aspirasi di aras komunitas. Organisasi di aras komunitas dapat menjamin tingkat partisipasi, pada saat bersamaan, mengembangkan dan memperjumpakan dengan organisasi atau kelompok lain untuk semakin memperkokoh kekuatan komunitas. Membangun
jaringan: kelompok organisasi di aras komunitas dan seorang community organizer harus membangun dan tergabung dalam aliansi-aliansi strategis untuk menambah proses pembelajaran dan menambah kekuatan diri. Dalam proses pengorganisasian komunitas, ada beberapa nilai yang harus dibangun yakni:

1. Mulai dari apa yang ada
Proses pengorganisasian berawal dan dibangun di tingkat lokal, kecil, terdapat isu konkret yang digali di aras komunitas dimana sekelompok orang mau terlibat. Menekankan pada intensitas dan persiapan yang matang dari sekian banyak orang terlibat. Keterlibatan tersebut mulai dari identifikasi isu, pengambilan keputusan, evaluasi, dan refleksi dari proses yang telah dijalani bersama. Pengorganisasian komunitas merupakan sebuah proses dinamis, berkelanjutan dan bisa dikembangkan ke langkah-langkah selanjutnya dari lingkup lokal sampai ke lingkup nasional bahkan internasional, dan dari isu yang konkret ke isu yang lebih makro bahkan global.

2. Membangun kesadaran melalui proses belajar dari pengalaman
Inti dari proses pengorganisasian komunitas adalah pengembangan kesadaran dan pemahaman untuk bertindak sesuai dengan kenyataan. Conscientisasi (ketersadaran) tidak bisa dicapai melalui mekanisme hafalan yang biasa diterapkan oleh sistem pendidikan bermodel bank system menganggap manusia sebagai obyek yang pikirannya bisa diisi apa saja-. Pencapaian ketersadaran diperoleh melalui tindakan dengan belajar dari pengalaman-pengalaman hidup. Oleh karena itu, pengorganiasian komunitas memberikan penekanan pada proses belajar dengan melakukan pencarian kebenaran dan pencerahan secara terus menerus melalui media-media aktivitas bersama. Sesuatu yang benar sekarang belum tentu benar untuk masa yang akan datang, manusia dituntut untuk terus mencari kebenaran yang hakiki dari proses dialektika antara teori dan praktek.

3. Keterlibatan dan Keteladanan
Community organizer (CO) dalam pengorganisasian komunitas mempunyai kecenderungan untuk membela yang lemah/miskin, yang tidak berdaya dan tertindas. Tetapi sikap tersebut tidaklah cukup. Perubahan harus dicapai melalui suatu proses partisipatif dimana keseluruhan masyarakat terlibat untuk mempunyai pengalaman dalam mengorganisir.

4. Kepemimpinan
Mereka yang melakukan pengorganisasian komunitas bukanlah pemimpin, juga bukan individu dan kepribadian. Community organizer (CO) adalah pusat dari kelompok, tetapi tidak berorientasi untuk menjadi pemimpin. Pemimpin sebaiknya teridentifikasi, muncul dan telah diuji dalam tindakan dan bukan terpilih karena kekuatan dari luar kelompok. Pemimpin harus mampu mempertanggungjawabkan tindakannya pada publik.

Sumber : Filemon La’ia

Ditulis: http://www.forniha.com

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: